MAKASSAR – Proyek gas abadi Blok Masela mulai memasuki tahap pembangunan setelah mandek selama 28 tahun sejak 1998. Pemerintah menargetkan proyek di Kepulauan Tanimbar, Maluku, tersebut mulai berproduksi pada 2029–2030.
Nilai investasinya mencapai 21 miliar dolar AS. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pengembangan Blok Masela telah melewati enam periode pemerintahan sebelum memasuki tahap peletakan batu pertama.
“Kan sudah tahu bahwa Blok Masela ini sudah 28 tahun, dari tahun 1998 sudah ada dan itu sudah melewati enam Presiden. Berakhir di Presiden ke-8, Presiden Prabowo,” kata Bahlil seusai menghadiri Musda XI Partai Golkar di Makassar, Sabtu (17/7/2026).
Menurut Bahlil, proyek tersebut sempat direncanakan untuk dieksekusi pada 2005 pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Rencana pengembangannya kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Namun, pelaksanaannya tertunda karena perdebatan mengenai skema pengembangan. Perdebatan itu berkaitan dengan pilihan membangun fasilitas pengolahan di laut atau offshore maupun di darat atau onshore. “Perdebatan itu tak kunjung selesai. Sementara ini investasi besar, 21 miliar dollar AS dan menghasilkan 1.200 MMSCFD gas serta 35.000 barel minyak per hari,” ujar Bahlil.
Ia mengatakan pengoperasian Blok Masela akan menghasilkan penerimaan bagi negara. “Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesainya? Padahal dampaknya itu kita akan mendapatkan pendapatan negara ketika dia jalan,” tegasnya. Bahlil menyebut Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan untuk menyelesaikan berbagai hambatan pengembangan Blok Masela. Menurut dia, proses penyelesaian kendala berlangsung selama satu tahun hingga peletakan batu pertama dilakukan.
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada saya untuk segera mengeksekusi. Dan alhamdulillah, satu tahun saya meng-clearance dan kemudian sudah kemarin groundbreaking,” kata Bahlil. Peletakan batu pertama menandai dimulainya tahapan pembangunan proyek tersebut. Pemerintah memperkirakan prosesnya selesai pada akhir dekade ini. “Dengan ground breaking itu maka tahapan umumnya sudah mulai jalan. Dan diperkirakan selesai, Insya Allah 2029–2030 sudah mulai produksi. Dan itu besar, investasinya besar banget ya,” pungkasnya. (FAD)